SCORE.CO.ID – Baru saja memasuki awal tahun 2026 ini, El Real sudah mendapatkan banyak cobaan disini. Setelah kekalahan di Super Copa atas Barca kemarin, sekarang kalah di Copa Del Rey dengan tim antah berantah. Sekarang pertanyaannya, salah siapa?
Tim Terbaik yang Sedang Dalam Penurunan Performa
Sangat menyakitkan melihat tim terbaik di dunia seperti Real Madrid harus mengalami penurunan performa yang sangat tajam musim terakhir.
Bayangkan saja sudah paruh musim 2025/2026 tak ada taring yang dikeluarkan Madrid disini. Sejak awal musim di tangan Xabi Alonso dengan dirangkum pakar kami @JurnalisT:
- Dalam 34 laga: 24x menang dan 6x kalah
- 72 goal dengan 38 kebobolan
- 0 trofi dalam 8 bulan melatih.
Bukan hanya itu saja, penurunan performa juga menjadi kerugian bagi klub karena:
- Real Madrid bukan lagi pemimpin La Liga.
- Real Madrid tersingkir dari Copa del Rey oleh tim Divisi Dua, Albecete.
- Real Madrid kalah di final Piala Super Spanyol dari Barcelona.
- Real Madrid mengganti manajer di tengah musim.
Krisis Real Madrid Adalah Kenyataan!
Permainan buruk dengan kualitas pemain terbaik mengisi skuad seperti Vinicius, Mbappe, Bellingham mereka adalah nama-nama terbaik. Ini bukan krisis pemain atau keuangan tapi krisis moral, benarkah?
Ketika di ruang ganti atas kekalahan Albecete tadi malam, Kamis dinihari (15/1/2026), para pemain hanya terdiam membisu.
“Tidak perlu ada yang disalahkan, kami tahu semuanya mengulang dari awal, dan saya baru saja menjadi manajer pengganti disini”, kata Arbelo dikutip dari laman resmi klub.
Arbeloa mengungkapkan ini adalah tanggung jawabnya, ketika penggemar berkata bahwa Madrid sedang di landa dalam krisis moral dan karma buruk.
Berikut Penjelasan Rentetan Cobaan Real Madrid Awal Tahun 2026
Datang dengan status raksasa Eropa, Los Blancos justru tumbang di tangan tim divisi dua. Albacete tampil tanpa rasa takut, menekan sejak awal dan menunjukkan determinasi luar biasa sepanjang laga.
Laga ini menjadi pertandingan pertama Arbeloa sebagai pelatih kepala Real Madrid. Namun alih-alih awal manis, ia justru harus menyaksikan timnya kebobolan tiga gol dan angkat koper lebih cepat dari ajang Copa del Rey.
Madrid sempat dua kali menyamakan kedudukan, tapi lemahnya koordinasi lini belakang kembali jadi masalah. Gol penentuan Albacete di menit-menit akhir benar-benar memukul mental para pemain Madrid.
Beberapa pemain inti tidak diturunkan sejak awal. Keputusan rotasi ini menuai kritik, karena Madrid terlihat kesulitan mengontrol tempo dan kalah agresivitas dari tuan rumah yang bermain penuh semangat.
Tapi yang tak disadari, meski mencoba mengganti beberapa pelatih, ada karma buruk dimana perlakuan terhadap Xabi Alonso dibiarkan begitu saja dia pergi.
Sebelum Xabi pergi selamanya, ia sempat bersiteru dengan Vinicius Junior di belakang lapangan. Itu terjadi sejak Juli 2025 lalu.
Hubungan Vinicius dengan Xabi Alonso disebut sudah renggang sejak Piala Dunia Antarklub ketika sang pelatih mencadangkan sang bintang melawan PSG sebelum akhirnya terpaksa memasukkannya ke dalam starting XI karena cedera pemain lain.
Sejak saat itu Xabi hanya memasukkan Vini sebanyak tiga kali dalam 5 laga berikutnya. Tapi apakah Florentino Perez menjadi penengah?
TENTU TIDAK.
Xabi Alonso yang memilih pergi disaat Madrid tak percaya lagi jasanya. Bahkan ketika kepergiannya tak ada satupun dari pihak klub memberikan kenangan manis. Sekarang kalau seperti ini, siapa yang menanggung karma buruk?
