SCORE.CO.ID – Mikel Arteta angkat bicara setelah timnya gagal menambah 3 poin saat Arsenal ditahan Nottingham Forest dalam gelaran Liga Inggris pekan ke 22. Kemarahan Declan Rice tak luput dari radar pecinta sepak bola yang menunjukkan beban Arsenal harus menjadi pemenang pada laga tersebut.
Kemarahan Declan Rice Tanda Kecemasan Arsenal?
Arsenal harus puas membawa pulang satu poin dari lawatannya ke City Ground setelah bermain imbang tanpa gol melawan Nottingham Forest pada lanjutan Liga Inggris, Minggu (18/1/2026) dini hari WIB.
Hasil tersebut memang membuat posisi The Gunners di puncak klasemen tetap aman, bahkan jarak dengan para pesaing terdekat melebar menjadi tujuh poin. Namun, alih-alih merayakan keunggulan itu, suasana di kubu Arsenal justru dipenuhi rasa frustasi.
Kondisi ini semakin terasa karena sebelumnya Manchester City menelan kekalahan. Situasi tersebut sejatinya membuka peluang emas bagi Arsenal untuk menjauh hingga sembilan poin.
Sayangnya, kesempatan itu gagal dimanfaatkan. Ekspresi kekecewaan pun terlihat jelas di wajah para pemain seusai laga, terutama Declan Rice yang dikenal sebagai salah satu figur paling vokal dan emosional di lapangan.
Sejak masih membela West Ham United, Rice memang kerap menunjukkan reaksinya secara terbuka. Ia tak segan mengangkat tangan, menggelengkan kepala, atau melontarkan gestur kecewa ketika rekan setimnya melakukan kesalahan.
Namun, dalam laga melawan Nottingham Forest, luapan emosinya menjadi sorotan publik setelah kamera televisi menangkap umpatan yang keluar dari mulutnya. Momen itu seakan menjadi simbol kegelisahan Arsenal sepanjang musim ini.
Meski secara kualitas Arsenal kerap dianggap sebagai tim paling komplit di Liga Inggris saat ini, performa mereka di beberapa pertandingan justru terasa kurang meyakinkan.
Penambahan kedalaman skuad pada bursa transfer musim panas lalu memang membantu Arteta menghadapi jadwal padat. Namun, hal tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan di atas lapangan.
Pemain Arsenal Minim Kreativitas Saat Hadapi Nottingham Forest

Saat menghadapi Nottingham Forest, permainan Arsenal terlihat kaku dan minim kreativitas. Alur serangan berjalan monoton, sementara ide-ide segar nyaris tak terlihat.
Dominasi penguasaan bola nyatanya tak diiringi dengan peluang bersih berbahaya. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar, apakah Arsenal terlalu terbebani oleh ambisi dan tekanan untuk segera menjadi juara?
Sorotan juga mengarah pada pendekatan taktik Mikel Arteta. Pelatih asal Spanyol itu dinilai memiliki titik buta dalam meracik permainan menyerang.
Fokus besar pada struktur bertahan, pressing ketat, dan duel fisik membuat Arsenal tampil lebih mengandalkan tenaga ketimbang imajinasi.
Pemain-pemain kreatif seperti Eberechi Eze dan Ethan Nwaneri hanya mendapat menit bermain terbatas, meski beberapa pilar utama tampil di bawah performa terbaik.
Dalam fase menyerang, Arsenal kerap mengandalkan umpan silang ke kotak penalti. Namun, pendekatan itu menjadi tanda tanya besar ketika Viktor Gyokeres kembali gagal memberi dampak.
Striker anyar tersebut belum mampu menjawab ekspektasi dan terlihat kesulitan beradaptasi dengan pola permainan tim.
Di titik ini, masalah terbesar Arsenal tampaknya bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri mereka sendiri.
Tekanan untuk mempertahankan posisi puncak klasemen, ekspektasi publik, serta tuntutan bermain sempurna justru membuat mereka sulit menikmati permainan.
Ledakan kemarahan Declan Rice hanyalah satu potret kecil dari kegelisahan yang lebih besar. Jika Arsenal ingin benar-benar melangkah mantap menuju gelar juara, Arteta perlu menemukan keseimbangan antara disiplin taktik dan kebebasan berekspresi.
Tanpa itu, musuh terbesar The Gunners bukanlah rival di papan atas, melainkan bayang-bayang keraguan yang terus menghantui dari dalam.
