Polemik Liga 3 PSGC Ciamis Bantah Main dengan 12 Pemain Lawan Persikota

Polemik Liga 3 PSGC Ciamis Bantah Main dengan 12 Pemain Lawan Persikota
Polemik Liga 3 PSGC Ciamis Bantah Main dengan 12 Pemain Lawan Persikota

Polemik Liga 3 PSGC Ciamis

score.co.id – Kemenangan telak 3-0 PSGC Ciamis atas Persikota Tangerang di Liga Nusantara seharusnya jadi momen manis untuk merayakan puncak klasemen sementara. Tapi, justru satu momen teknis singkat di menit ke-77 yang berlangsung kurang dari 60 detik menyita semua perhatian. Ini mengubah narasi kemenangan menjadi gelombang polemik di media sosial. Tudingan “main 12 pemain” bergema lebih kencang daripada dua gol Shahih dan satu gol Sidang.

Di tengah hiruk-pikuk itu, manajemen PSGC Ciamis, dipimpin CEO sekaligus Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, mengambil sikap tegas: bantahan keras disertai klarifikasi rinci. Artikel ini bukan cuma mengulang kronologi, tapi menelisik lebih dalam—mengapa insiden kecil bisa jadi badai besar, bagaimana regulasi menafsirkan kesalahan manusiawi, dan apa dampak jangka panjangnya bagi integritas kompetisi akar rumput di Indonesia.

Klarifikasi Resmi PSGC Ciamis Terkait Isu Pemain Ke-12
Klarifikasi Resmi PSGC Ciamis Terkait Isu Pemain Ke-12

Kronologi Insiden: Antara Human Error dan Badai Digital

Pertandingan di Stadion Kota Barat, Solo, pada 16 Desember 2025 berjalan sesuai skenario PSGC. Mereka dominan dan unggul tiga gol tanpa balas. Di puncak dominasi itulah, justru terjadi titik yang menggelincirkan perhatian. Di menit ke-77, tak lama setelah gol ketiga, PSGC melakukan pergantian pemain. Menurut penjelasan resmi Herdiat Sunarya, dua pemain pengganti telah dipersilakan masuk oleh hakim garis. Namun, di saat yang sama, satu pemain yang hendak diganti—karena cedera—belum sepenuhnya meninggalkan lapangan.

“Pada saat kedua pemain pengganti masuk dan pertandingan kembali berjalan kurang dari satu menit baru ketahuan ada 12 pemain,” jelas Herdiat, seperti dikutip Harapan Rakyat.

Yang menarik, klaim dari kubu PSGC adalah bahwa mereka justru pihak yang pertama menyadari kesalahan ini. “Ketahuannya itu oleh kita pertama kalinya… Setelah itu teriak-teriak, dan baru Persikota protes dan ribut. Padahal tidak lebih dari satu menit,” tegasnya. Inilah inti dari perspektif PSGC: insiden tersebut adalah human error murni dalam proses pergantian yang melibatkan pemain cedera, diperparah oleh pengawasan dari petugas pertandingan yang kurang cermat. Mereka menegaskan, mustahil ada niat curang ketika skor sudah 3-0 dan kemenangan hampir pasti. Narasi ini kemudian mendapat penguatan dari keputusan resmi Komite Disiplin (Komdis) PSSI, yang menyatakan tidak ada sanksi bagi PSGC dan perangkat pertandingan dikembalikan—indikasi kuat bahwa insiden dianggap kelalaian teknis, bukan pelanggaran disengaja.

Baca Juga  Barcelona Buat Daftar 6 Pemain Sakral, Nama Asing Cuma Beruntung Sekali

Analisis Regulasi: Mengapa PSSI Tidak Memberi Sanksi?

Keputusan Komdis PSSI untuk tidak memberikan sanksi mungkin mengejutkan bagi publik yang terbiasa dengan skandal sepak bola. Namun, keputusan ini kemungkinan besar berakar pada penafsiran terhadap Laws of the Game dan regulasi disiplin. Poin kuncinya terletak pada niat (intent) dan dampak (impact).

Pertama, aspek niat. Seluruh penjelasan PSGC dan pemeriksaan Komdis tampaknya menyimpulkan tidak ada unsur kesengajaan untuk menambah keuntungan kompetitif. Posisi unggul 3-0 yang aman menjadi argumen kontekstual yang kuat. Dalam penerapan aturan, motivasi pelanggar menjadi pertimbangan penting.

Kedua, aspek dampak. Insiden berlangsung “kurang dari satu menit” dan yang terpenting, tidak memengaruhi hasil pertandingan. Tidak ada gol, peluang berbahaya, atau perubahan momentum permainan yang terjadi dalam durasi singkat tersebut. Wasit juga dianggap telah mengambil tindakan korektif yang cepat setelah menyadari kesalahan. Dalam banyak badan pengatur sepak bola, pelanggaran prosedural tanpa dampak material terhadap pertandingan sering kali hanya berakhir dengan peringatan atau teguran, bukan sanksi berat seperti pengurangan poin atau pemberian walkover.

Ketiga, peran petugas pertandingan. Klaim PSGC bahwa hakim garis yang mengizinkan pemain masuk sebelum pemain keluar sepenuhnya, jika terbukti, membagi tanggung jawab. Kesalahan prosedural dalam pengelolaan pergantian pemain juga melibatkan kinerja ofisial, yang membuat hukuman untuk satu pihak saja menjadi tidak adil.

Keputusan ini sebenarnya mencerminkan pendekatan yang proporsional. Daripada menghukum kelalaian teknis singkat dengan sanksi yang bisa menghancurkan perjalanan kompetisi sebuah klub, PSSI memilih menyelesaikannya dengan memberikan pemahaman dan peringatan. Namun, pendekatan seperti ini selalu berisiko dibaca sebagai inkonsistensi atau “kelemahan”, terutama di mata publik yang haus keadilan.

Dampak Psikologis dan Reputasi di Tengah Kompetisi Ketat

Polemik media sosial pasca-pertandingan menciptakan tekanan psikologis yang unik bagi PSGC Ciamis. Alih-alih bisa menikmati kemenangan dan posisi puncak klasemen, mereka harus beralih ke mode bertahan, mengklarifikasi, dan membela reputasi. Untuk klub yang berbasis komunitas seperti PSGC, reputasi fair play adalah aset tak ternilai.

Baca Juga  Hasil Sidang Komdis PSSI Klub Liga 1 - Thomas Doll, Persija, dan Kerusuhan Suporter Persita Vs Persis Kena Hukum

Tekanan ini langsung diuji dalam laga berikutnya. Sehari setelah keputusan Komdis, pada 19 Desember, PSGC membuka putaran kedua dengan hasil imbang 0-0 melawan Perserang Serang. Pertandingan yang dilaporkan berlangsung alot dan tanpa gol ini, seperti dilansir Detik.com, menunjukkan bahwa PSGC “harus puas berbagi angka”. Wajar untuk mempertanyakan apakah badai polemik dan energi yang terkuras untuk urusan di luar lapangan sedikit banyak memengaruhi konsentrasi dan ketajaman tim di laga selanjutnya. Herdiat sendiri mengakui bahwa fokus utama tim adalah promosi ke Liga 2, sebuah target yang telah dicoba diraih selama empat musim beruntun. Gangguan seperti ini bukan hal yang diinginkan dalam perjalanan panjang yang sudah mereka rencanakan.

Di sisi lain, bagi Persikota Tangerang, polemik ini bisa menjadi pembenaran psikologis. Kekalahan telak 0-3 adalah hasil yang pahit. Keberadaan insiden kontroversial, meski tak mengubah skor, memberikan semacam “konteks” atau “alasan” eksternal yang mungkin meringankan beban kekalahan di mata pendukung. Hal ini merupakan dinamika psikologis umum dalam olahraga.

Cermin bagi Sepakbola Akar Rumput: Sistem, Sumber Daya, dan Prioritas

Insiden ini, meski kecil, berfungsi sebagai cermin bagi kondisi Liga 3 dan sepak bola akar rumput Indonesia secara keseluruhan. Beberapa poin kritis terpantul:

  • Kualitas dan Konsentrasi Ofisial Pertandingan: Klaim bahwa hakim garis kurang cermat dalam mengawasi pergantian pemain cedera menyoroti isu klasik di level kompetisi bawah: ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia ofisial. Turnover yang tinggi, beban kerja, dan level pengawasan yang mungkin tidak setinggi liga profesional bisa menjadi faktor.
  • Amplifikasi Media Sosial vs. Proses Formal: Polemik dibesarkan dengan kecepatan tinggi di media sosial, jauh sebelum proses resmi Komdis PSSI selesai. Ini menciptakan “pengadilan publik” yang seringkali menghakimi berdasarkan potongan video dan narasi parsial. Klub seperti PSGC kemudian dipaksa untuk bermain di dua arena: lapangan hijau dan arena digital.
  • Ketegangan antara Nalar Kompetitif dan Aturan Teknis: PSGC berargumen, “tidak masuk akal” mereka curang saat unggul 3-0. Ini adalah argumen berbasis nalar kompetitif. Namun, aturan harus diterapkan secara teknis dan objektif. Ketegangan antara kedua hal ini yang sering menimbulkan perdebatan sengit di sepak bola.
Baca Juga  AC Milan Vs Udinese - Cedera Buat Stefano Pioli Ubah Strategi, Duet Giroud-Jovic Jadi Solusi

Proyeksi ke Depan: Pelajaran dan Fokus yang Terpecah

Keputusan Komdis PSSI yang final telah menutup kasus ini dari sisi regulasi. Namun, pelajarannya tetap terbuka. Bagi pengelola liga, ini adalah pengingat untuk mungkin meningkatkan pelatihan atau prosedur standar operasi bagi ofisial, khususnya dalam situasi pergantian pemain yang melibatkan cedera. Bagi klub, ini pelajaran tentang krisis komunikasi: PSGC dinilai cukup cepat dan jelas dalam memberikan klarifikasi langsung dari pucuk pimpinan.

Bagi PSGC Ciamis, jalan masih panjang. Mereka kini harus berkompetisi di putaran kedua yang seluruhnya digelar di Solo selama hampir dua bulan, dengan target promosi yang sama sekali tidak boleh memudar. Kembali ke puncak klasemen mutlak diperlukan. Seperti disampaikan Herdiat, mereka mengandalkan skuad yang ada tanpa tambahan pemain baru, dan berharap pada pemulihan pemain kunci seperti Rian Lasut yang telah lama absen.

Kesimpulan

Polemik “12 pemain” ini, pada akhirnya, mungkin akan tercatat sebagai catatan kaki dalam sejarah Liga 3 2025. Namun, ia berhasil menyibak lapisan-lapisan menarik: tentang betapa rapuhnya narasi kemenangan di era digital, tentang interpretasi aturan yang sarat pertimbangan, dan tentang tantangan sebenarnya membangun sepak bola yang tidak hanya kompetitif, tapi juga dikelola dengan presisi dan integritas dari level paling bawah. PSGC Ciamis telah melalui badainya. Kini, perhatian harus sepenuhnya kembali ke lapangan, di mana poin, gol, dan taktik-lah yang akan menentukan apakah mimpi promosi mereka akhirnya menjadi kenyataan.

Ingin tetap update dengan analisis mendalam seputar dinamika sepak bola nasional dan internasional? Ikuti terus berita dan ulasan eksklusif hanya di Score.co.id.