SCORE.CO.ID – Sebagai sebuah klub yang umurnya relatif masih muda, catatan sejarah RB Leipzig rupanya sudah terisi berbagai macam hal. Selain merupakan klub muda yang potensial, RB Leipzig juga tercatat sebagai klub yang paling dibenci di Bundesliga.
Penyebab munculnya sentimen negatif yang diterima oleh RB Leipzig ini terutama karena sistem manajerialnya dianggap tidak lazim. Sistem apakah gerangan yang membuat klub potesial ini mendapat penolakan besar-besaran dari publik Jerman?
Sejarah RB Leipzig
RB Leipzig didirikan oleh perusahaan minuman berenergi asal Austria yang cukup ternama, yaitu Red Bull GmbH. Perusahaan ini memang dikenal suka berinvestasi di bidang olahraga, khususnya balap mobil Formula 1.
Klub sepak bola pertama Red Bull adalah Red Bull Salzburg yang berbasis di Salzburg, Austria. Melihat kemajuannya yang signifikan, Red Bull pun tertarik untuk makin melebarkan sayapnya di dunia sepak bola.
Atas saran Franz Beckenbauer, legenda sepak bola Jerman, Red Bull membeli klub FC Sachsen Leipzig. Pembelian klub yang berada di daerah Jerman Timur ini menghabiskan dana sebesar 50 juta euro atau sekitar Rp778 miliar.
Red Bull kemudian mengubah nama klub tersebut menjadi RassenBallsport Leipzig atau yang RB Leipzig. Akronim RB dipilih karena selaras dengan nama perusahaan, Red Bull. Klub bernama RB Leipzig ini didirikan secara resmi pada 19 Mei 2009.
RB Leipzig mulai berlaga di liga NOFV-Oberliga Sud (setara dengan divisi enam Liga Jerman) pada 2009-2010. Di musim 2014-2015, mereka berhasil mencapai Bundesliga, bahkan lantas sempat finish di posisi kedua setelah Bayern Munchen.
Selanjutnya, pada 2021-2022 RB Leipzig kembali menorehkan prestasi dengan meraih gelar DFB Pokal. Kemenangan ini berhasil mereka raih setelah memenangkan adu penalti yang dramatis melawan SC Freiburg.
Mengapa RB Leipzig Tak Bisa Disepelekan

Prestasi RB Leipzig yang tentunya cemerlang menyadarkan publik dan klub-klub sepak bola Jerman bahwa klub baru ini tak bisa disepelekan.
Namun, meski tampaknya memiliki modal yang mumpuni, ada satu hambatan yang menghalangi RB Leipzig untuk menjadi klub besar. Hambatan itu adalah penolakan besar-besaran dari basis suporter sepak bola di seluruh Jerman.
Penyebabnya, mayoritas klub sepak bola di Jerman menganut sistem 50+1. Sistem ini menempatkan suporter sebagai pemegang saham terbesar.
Namun, RB Leipzig tidak menerapkan sistem tersebut. Saham klub ini mayoritas dimiliki oleh pendirinya, yakni Red Bull GmbH. Akibatnya, RB Leipzig tidak memiliki basis suporter yang cukup besar untuk menjadikan mereka sebagai klub raksasa.
Keputusan untuk menerapkan suatu sistem yang berbeda dengan yang diterapkan secara umum seringkali memang memicu sentimen negatif. Namun, sejarah RB Leipzig menunjukkan bahwa hal itu sepadan dengan keberhasilan yang dicapai.
